Review Novel Athirah


Judul: Athirah
Penulis: Albertheine Endah
Penerbit: Noura Books
Tahun: 2013
Tebal: 404 halaman
ISBN: 9786027816671

Haji Kalla merupakan seorang pedagang yang ulet. Ia sudah berdagang sejak masih remaja. Ia menikah dengan seorang gadis yang cantik bernama Athirah. Kelak Athirah akan membantunya mengembangkan usaha dagangnya. Mereka dinilai pasangan yang sempurna, karena sama-sama berpenampilan dan berperilaku menawan.

Pernikahan Haji Kalla dan Athirah menghasilkan beberapa anak, salah satunya adalah Jusuf. Jusuf merasa beruntung memiliki keluarga yang dinilainya tak banyak cacat. Ayah yang pekerja keras serta ibu yang lembut dan selalu sigap membantu urusan keluarga, bahkan mereka mengajak saudara-saudara tinggal di rumah mereka sambil membantu usaha mereka yang mulai berkembang. Teladan yang benar-benar sempurna untuk Jusuf.

Namun, suatu hari sinar di rumah mereka redup karena Haji Kalla menikah lagi. Athirah kehilangan cahayanya. Dia pergi ke beberapa orang pintar untuk menemukan jawaban dari masalah ini. Jusuf yang saat itu masih remaja, dipaksa untuk menjadi dewasa dan memahami masalah yang ada di rumah. Banyak pertanyaan dalam diri Jusuf yang tak pernah sempat terjawab. Karena ia dihadapkan pada kondisi harus menjaga ibu dan adik-adiknya agar cahaya di rumahnya tetap menyala. Jusuf sudah belajar dari kehidupan untuk memahami perempuan sejak remaja, saat melihat Athirah begitu gelisah melihat perubahan Haji Kalla.

review novel athirah

“Nafasku maju mundur. Sudah kupersiapkan pertanyaan untuk bapak. Cukup lengkap dan mewakili seluruh kegundahanku? Mengapa bapak menikah lagi? Apa salah Emma? Apakah kami sebagai anak-anak tak cukup membahagiakan bapak? Bagaimana masa depan kami?bagaimana jika bapak punya anak-anak lagi dari istri kedua, apakah kami masih diperhatikan? Bagaimana jika kami menikah kelak? Apakah ia akan tetap ada sebaris dengan kami di pelaminan? Banyak hal. dan kurasa aku cukup sanggup menanyakan itu dengan lancer kepada bapak” (halaman 52)

Namun akhirnya Athirah menyerah. Tak segera mendapat jawaban, Athirah pun berusaha bangkit dengan melarikan diri pada kegiatan berbisnis kain sutra. Pelarian yang positif. Kelak bisnisnya akan maju pesat dan bisa membantu keuangan keluarga di kala sulit. Sama halnya dengan Jusuf, Athirah pun mengambil teladan yang baik dari haji kalla dalam berbisnis. Selain itu, Athirah juga menyibukkan diri dengan mengadakan pengajian rutin di rumah.

“Sepertinya Emma menumbuhkan benteng pada dirinya karena serangan yang bertubi mulai membuatnya sadar. Ia harus lebih tangguh dari cobaan-cobaan itu. Aku menghirup kemajuan Emma dari sikapnya menghadapi serangan luar” (halaman135) 

Cahaya dalam diri Athirah kembali menyala. Cahaya itu membuat Jusuf berseri kembali dan mulai memikirkan masa depannya. Jusuf dipercaya memimpin sebuah toko oleh Haji Kalla. Jusuf juga mulai jatuh cinta pada pandangan pertama dengan adik sekolahnya yang bernama Mufidah. Bertahun-tahun Jusuf mencoba mendapatkan hati Mufidah, namun Mufidah bergeming. Gadis itu menolak cinta Jusuf karena takut mengalami hal yang sama dengan Athirah!

“Jusuf, Ayahku mengetahui keluargamu. Orangtuaku tahu ayahmu menikah lagi. Ia selalu mengingatkan aku tentang itu. Kurasa ia takut aku mengalami hal yang sama dengan ibumu. Maafkan aku” (halaman 307)

***

review novel athirah

Buku berjudul Athirah ini merupakan novel yang terinspirasi dari kisah nyata Jusuf Kalla dan ibundanya, Athirah. Pembaca tentu tahu siapa Jusuf Kalla kan? Beliau adalah seseorang yang cukup penting di negeri ini. Beliau pernah menjabat sebagai Menteri dan saat ini menjabat sebagai wakil presiden Republik Indonesia. Ternyata perjalanan beliau sampai mencapai titik ini sangat berliku. 

Melalui novel ini, saya bisa merasakan, hidup dalam keluarga berlatar belakang poligami itu sangat kompleks permasalahannya. Anak-anak akan kekurangan kuantitas waktu dengan bapak, istri yang saling cemburu, pendapatan dari usaha harus dibagi dua, dan sebagainya. Namun di luar itu, selalu ada hikmah dari berbagai peristiwa. Orang-orang yang teraniaya namun bisa ikhlas dan sabar, akan dimenangkan oleh Allah SWT. Saya melihat contoh nyata dari Jusuf dan ibundanya dalam novel ini, masha Allah.

Selain belajar tentang keihklasan akan takdir Allah, novel ini juga mengajarkan prinsip berdagang yang baik sesuai ajaran Islam. Prinsip Haji Kalla dalam berdagang seperti berbagi, menjual barang yang baik dengan harga yang baik pula. Haji kalla menjauhkan diri dari kecurangan karena tidak berkah. Ini yang Jusuf ambil dari Haji Kalla.
“Kau tahu, jusuf, pekerjaan berdagang sebenarnya adalah bersumber pada kesabaran. Kau harus sabar mengumpulkan keuntungan sedikit demi sedikit untuk bisa menciptakan kesejahteraan bagi hidupmu. Dan kau harus sabar menanti pembeli benar-benar memercayai barang-barang daganganmu. Kau tak bisa memaksakan kehendak. Keberhasilan berdagang adalah bila kau berhasil membuat orang lain merasakan manfaat dan kepercayaan. Jika kau ingin untung dengan cepat, kau telah mulai serakah dan melakukan hal-hal yang buruk. Jangan  pernah bercita-cita cepat menjadi orang kaya, Jusuf. Bercita-citalah menjadi orang yang bisa berbagi” (halaman 241)

Barangkali, prinsip inilah yang membuat Jusuf Kalla menjadi sukses sebagai pebisnis. Usahanya dimulai dengan toko, lalu usaha pembangunan jalan, sampai usaha otomotif.  Karena ia berbagi dengan orang lain, maka bisnisnya mendapat berkah dan meraup sukses. 

Ada satu pengalaman beliau saat masih merintis bisnis otomotif. Beliau dipercaya menjadi distributor tunggal Toyota. Namun beliau merasa cukup puas dengan menjadi distributor Toyota untuk Indonesia Timur dan menyerahkan kesempatan itu pada sahabatnya. Namun dengan begitu, rejeki Jusuf tidak berkurang.  Ini mungkin yang disebut dengan manfaat networking atau silaturahim. Ketika kita menjalin hubungan baik dengan orang lain, rejeki pun akan datang dari arah yang tak terduga. 

Namun jangan lupa, dibalik suksesnya seorang laki-laki selalu ada peran perempuan di belakangnya. Perempuan-perempuan hebat dalam novel ini luar biasa. Keberhasilan Jusuf Kalla salah satunya tak lepas dari peran Athirah sebagai ibundanya yang selalu memberikan teladan tentang sabar, ikhlas, dan kerja keras.

Comments

  1. Menarik.. Apalagi ini kisah nyata.. Dan pengarannya alberthine :) . Selaku suka ama tulisan2 mba alberthine ini.. Berasa dibawa masuk ke dlm ceritanya, dan susab berhenti sebelum tamat :)

    ReplyDelete
  2. Penasaran deh pengen baca juga ini buku hehehe

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

[Blogtour dan Giveaway] Departemen Hati

Cerita-cerita Tentang Cinta Lingkungan

Polisi Sahabatku